Senin, 17 September 2012

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan di Lingkungan

Kesehatan dan lingkungan merupakan wacana yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Kita tidak dapat memungkiri bahwa keadaan lingkungan berpengaruh terhadap kesehatan suatu komunitas bahkan ekosistem lingkungan tersebut. Begitu pula dengan kesehatan, kesehatan juga berperngaruh terhadap dinamika lingkungan terutama bila dipandang dalam sudut biologis yang akan berdampak pada perubahan aspek sosialnya.
Lingkungan dapat diartikan sebagai tempat dimana kita tinggal yang meliputi keadaan hubungansosial dan dinamika ekosistem yang berada di sekitar kita dan berkaitan dengan hal lainnya, baik yang tampak dan tidak. Menurut kamus Bahasa Indonesia, lingkungan adalah daerah yang termasuk di dalamnya. Namun kita sering kali mengaitkan lingkungan dengan lingkungan hidup yang berarti kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasukmanusia dan perilakunya yang mempengaruhi kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya termasuk pula dengankesehatannya.
Kesehatan merupakan keadaan wujud atau fisik kita baik yang tampak atau tidak, kita sudah mengenal bahwa kesehatan terbagi dua, yaitu kesahatan jasmani dan kesehatan rohani. Arti kesehatan sendiri menurut kamus Bahasa Indonesia adalah kebaikan keadaan (badan dsb). Kesehatan jasmani adalah keadaan yang memfokuskan pada keadaan fisik, kesehatan jasmani dapat kitaperoleh dengan banyak berolah raga, beristirahat deang cukup, dan makan makanan yang bergizi bahkan disarankan untuk memakan makanan 4 sehat 5 sempurna yang sudah mencakup protein, karbohidrat, lemak, dan zat laitnya yang dibutuhkan oleh kita. Berbeda dengan kesehatan jasmani, kesehatan rohani berkaitan dengan keadaan mental yang diniliai dengan sudut pandang agama atau pun psikologisnya.
Melihat keadaan lingkungan saat ini di Indonesia, mungkin akan membuat kita meringis dan bertanya-tanya mengapa negara yang kaya dengan sumber daya alam dapat seperti ini keadaanya, lingkungan yang sangat tidak profosionalmembuat beberapa dampak yang buruk terhadap kesehatan masyarakat di Indonesia. Sehingga keadaan kesehatan masyarakat di Indonesia dapat kita maklumi bila kita melihat lingkungan yang seperti ini. Namun, ini bukanlah keadaan yang diharapkan oleh semua pihak, tidak ada satu orang pun yang menginginkan negaranya memiliki rata-rata kesehatan dibawah dari batas normal apalagikesehatan yang buruk di negara kita didominasi penyebabya oleh keadaan lingkungan yang buruk.
Seperti apa yang telah ketahui lingkungan sangat erat hubungannya dengan keadaan kesehatan, begitu pula dengan kesehatan yang dapat dijadikan indikasi keadaan suatu lingkungan. Adapun beberapa faktor keadaan lingkungan yang dapat mempengaruhi terhadap tingkat kesehatan masyarakat yang berada dalam lingkungan tersebut, yaitu: tata ruang, tingkat pertumbuhan, dan keadaan lingkungan tersebut. Tentu saja kesehatan juga di pengaruhi oleh konsumsi masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya.
  • Tata Ruang

Berdasarkan UU No.24/1992, pengertian penataan ruang tidak terbatas pada perencanaan tata ruang saja, namun lebih dari itu termasuk pemanfaatan ruang danpengendalian pemanfaatan ruang. Bila kita melihat salah satu kawasan seperti Jabodetabek, kawasan ini kita tahu sering mengalami bencana banjir dan longsor. Bencana banjir yang terjadi di Kawasan Jabodetabek pada tahun2002 merupakan salah satu fakta yang menunjukkan terjadinya konflik dan ketidakserasian pemanfaatan ruang, khususnya antara pemanfaatan kawasan pemukiman perkotaaan dan kawasan lindung ( Ruchyat Deni 2004).




(data dikutip dari buku Penataan Ruang, Pemanfaatan Ruang dan Masalah Lingkungan di Jabodetabek 2004, Suara Dramaga Fakultas Pertanian IPB; klik disini untuk kunjungi perpustakaan IPB)
Data menunjukkan, telah terjadi peningkatan punggunaan lahan di Jabodetabek pada tahun 1992 hingga 2001 sebesar 10% untuk pemukiman. Pada kurun yang sama, telah terjadi pula pengurangan luasan kawasan lindung hingga 16%. Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada keadaan masyarakat pada kawasan tersebut dengan indikasi adanya menurunnya banyak pohon atau kawasan yang fungsional untuk menjaga kualitas air. Selain kualitas air yang tidak terjamin, tidak profosional penataan ruang dapat membuat lingkungan tidak nyaman dan kumuh, bahkan dapat diduga akan adanya pemukiman warga yang berdekatan dengan tumpukan sampah (-indikasi sumber penyakit-) yang tentu saja akan berdampak pada kesehatan warga tersebut.
Menyinggung tentang sampah, sampah menjadi permasalahan negara kita. Kita harus berupaya mencari solusi yang efisien dan tepat dalam penanggulangan sampah, di Indonesia saat ini, permasalahan sampah diselesaikan dengan sistem kompleksitas , yaitu sampah yang dikumpulkan di satu tempat. Kompleksitas penanganan sampah terbagi dari sisi kuantitas dan kualitas, pembiayaan dan penyediaan sumber daya manusia. Karena kompleksitas pengelolaan sampah pemerintah kota membutuhkan tenaga profesional yang mampu baik dari segi teoritis maupun praktis. Pemerintah kota dan kabupaten yang bertanggung jawab menangani sampah, sampai dengan saat ini masih menggunakan sistem pengelolaan yang bersifat sentralistik. Artinya, sampah yang dihasilkan dari daerah perkotaan dikumpulkan semaksimal mungkin, untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) dengan cara yang sangat primitif, yaitu menumpuk secara terbuka atau open dumping. Selain itu, model TPA dengan menumpuk sampah secara terbuka memperlihatkan rendahnya peradaban bangsa. Metode yang seharusnya dilakukan adalah sanitary landfill. Dengan metode sanitary landfill tidak saja secara estetika baik, juga masalah pencemaran lingkungan dapat dihindarkan yang tentu saja akan meningkatkan taraf kesehatan kita jugaBeberapa kota pernah membakar sebagian kecil dari sampah kota yang tiba di TPA dalam tungku incinerasi, namun tidak berlangsung lama. Cara pembakaran sampah dengan incinerasi jika tidak dikendalikan dengan baik akan mengakibatkan pencemaan udara yang merupakan palusi yang dapat membuat ganggauan pada kesehatan kita. Kini pengelolaan sampah di Indonesia memasuki babak baru. Karena ketiadaan lahan untuk TPA maka solusi yang paling mungkin adalah mengurangi sebanyak mungkin atau maksimasi jumlah sampah yang harus diangkut ke TPA. Mengurangi jumlah sampah yang dikenal dengan program 3R dimulai dengan cara meminimasi timbulan sampah dari setiap sumber sampah (reduce), melakukan daur ulang (recycle) dan memanfaatkan ulang (reuse).
(sumber: LPPM IPB, klik disini untuk mengetahui lebih lanjut)
  • Tingkat Pertumbuhan

Banyaknya peduduk terhadap satuan luas atau yang biasa kita sebut dengan kepadatan penduduk merupakan faktor yang dapat mempengaruhi keadaan lingkungan yang tentu saja dapat mempengaruhinyajuga kesehatan masyarakat tersebut. indikasi padatnya penduduk salah satunya adalah tingkat pertumbuhan, kita tahu Indonesia termasuk 5 besar negara dengan jumlah penduduk paling banyak di dunia, keadaan ini tidak diimbangi dengan pemerataan penduduk di wilayah Indonesia. Misalnya, di Jabodetabek diindikasikan telah terjadi peningkatan jumlah penduduk dari 16 juta jiwa pada tahun 1990 menjadi 19 juta jiwa pada tahun 1996. Diperkirakan pada tahun 2015 pertumbuhan jumlah penduduk mencapai 27,3 juta jiwa.

Kepadatan penduduk yang terus meningkat akan diperkirakan dapat menyebabkan dampak yang cukup buruk bila tidak diimbangi dengan kemajuan sarana dan prasarana masyarakat. Bayangkan saja keadaan dimana penduduk terus bertambah cepat namun wilayah yang kita tinggali tetap (ngeri kan?).
  • Keadaan Lingkungan

Keadaan lingkungan yang menjadiindikasi bahwa lingkungan dapat berpengaruh pada kesehatan pada suatu wilayah tersebut baik berupa keadaan lingkungan tersebut ataupun prilaku warganya. Pada gambar, kita dapat melihat adanya pembuangan limbah dari industri yang semena-mena, limbah yang dibuang begitu saja tanpa memikirkan dampak dari pembuangan limbah tersebut pada lingkungan sekitar. Di Bandung, Jawa Barat, terdapat wilayah persawahan yang telah tercemari oleh limbah sehingga produktifitas tanah yang menghasilkan pangan bernutrisi berkurang, akibatnya dapat membuat masyarakat tersebut mudah mengalami gangguan kesehatan. Selain itu, hal ini dapat kita tinjau bahwa dengan adanya hal tersebut, kualitas tanah yang telah berkurang produktifitasnya sehingga penghasilan para petani akan berkurang dan akan membuat kualitas kehidupan warga menurun dengan keadaan daya beli yang serba terbatas.
Beberapa kaedaan lingkungan yang kurang baik dapat kita ubah dengan beberapausaha, penghijauan adalah salah satunya. Salah satu kegiatan penghijauan adalah program Desa Mandiri Energi Berbasis Mikrohidro berwawasan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat oleh PPLH-IPB, PPLH-IPB telah ikut menggalakkan penanaman pohon di sekitar dan di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Sekitar 7000 pohon dari beragam jenis yang telah ditanam disesuaikan dengan peruntukannya, yaitu pohon penghasil buah dan kayu untuk di luar kawasan dan pohon kehutanan untuk di dalam kawasan TNGHS. Penanaman pohon dengan melibatkan masyarakat Kampung Lebakpicung (Desa Hegarmanah, Kec. Cibeber, Kab. Lebak, Prov. Banten) yang berdiam di sekitar taman nasional. Penanaman pohon ini adalah sebagai bagian dari kewajiban masyarakat setelah adanya Pembangkit Tenaga Listrik Mikro Hidro (PLTMH) yang dibangun di Kampung Lebakpicung atas kerjasama CSR PT. PLN Persero (Pusat) dengan PPLH-IPB, dibawah payung kesepakatan bersama antara PLN dengan Fakultas Kehutanan.

Meskipun jika dibandingkan dengan luasan Taman Nasional, 7000 pohon bukan jumlah yang banyak, tetapi hal ini setidaknya merupakan wujud dari komitmen civitas IPB dalam mendukung gerakan penanaman pohon dan menjaga Taman Nasional dari kegiatan konversi peruntukkannya yang kita tahu akan berpengaruh pada aspek kehidupannya termasuk kesehatan warga tersebut. Luasan total penanaman pohon yang dilakukan secara pengkayaan ini adalah 33 Hektar, yaitu 27 Hektar di lahan masyarakat di luar kawasan TNGHS dan 6Hektar di dalam kawasan TNGHS. Jumlah sebanyak 7000 pohon akan sangat berarti jika kita mengacu bahwa dalam satu hektar ruang terbuka hijau (RTH) yang dipenuhi pohon besar akan menghasilkan 0,6 ton O2 untuk 1.500 penduduk/hari, menyerap 2,5 ton CO2/tahun (6 kg CO2/batang per tahun, menyimpan 900 m3 air tanah/tahun, mentransfer air 4.000 liter/hari, menurunkan suhu 5o C – 8o C, meredam kebisingan 25 – 80 persen dan mengurangi kekuatan angin 75 – 80 persen. Setiap mobil mengeluarkan gas emisi yang dapat diserap oleh 4 pohon dewasa, dengan tinggi 10 m ke atas, diameter batang lebih dari 10 cm, tajuk lebar, berdaun lebat. (Sumber: PPLH IPB; klik disini untuk informasi lebih lanjut).
Selain faktor lingkungannya sendiri, hal yang dapat berpengaruh pada kesehatan adalah perilaku warga tersebut. Misalnya dalam hal konsumsi, untuk mendapatkan kesehatan yang baik kita sebaiknya “pilih-pilih” terhabat jenis makanan apa yang akan kita makan. Tidak sebatas itu, kita pun dituntut untuk membuat sampah rumah tangga yang tidak terlalu banyak dengan memanfaatkan barang dengan efisien dan tepat guna. Sehingga penumpukan sampah yang berlebihan dan menjadi indikasi sumber segala penyakit akan berkurang dan kesehatan pun akan cukup terjamin dengan keadaan seperti itu.

Pemilihan makanan yang kita makan menjadi kemampuan masing-masing warga untuk memilih mana yang sekiranya baik untuknya atau tidak, sehingga salah satu jalan agar masyarakat dapat tahu akan makanan atau pangan yang baik untuk dikonsumsi adalah dengan adanya penyuluhan atau bimbingan yang menyeluruh atau pun dari pintu ke pintu tentang pangan yang baik untuk kesehatan kita. Karena kita tahu, sebersih atau sebaik apapun lingkungan kita, kesehatan tidak akan terjamin bila kita tetap tidak menajga pola makan konsumsi kita dalam sehari-hari. Warga pun harus tahu akan adanya beberapa zat yang terdapat pada makanan yang berupa racun yang dapat berdampak buruk pada kesehatan bahkan menyebabkan kematian bila berkesinambungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar