Minggu, 18 November 2012


Tanaman-Tanaman Yang Bersifat Koagulan

Koagulasi adalah peristiwa pengendapan atau penggumpalan partikel koloid dengan bantuan koagulan. Proses koagulasi terjadi akibat tidak stabilnya sistem koloid yang disebabkan penambahan zat elektrolit kedalam sistem koloid tersebut. Kegunaan koagulasi yaitu memudahkan partikel-partikel tersuspensi yang sangat lembut dan bahan-bahan koloid didalam air menjadi agregat dan membentuk flok, sehingga dapat dipisahkan dengan proses pengendapan.

Koagulan adalah zat pengendap yang ditambahkan dalam proses pengendapan dan penyaringan atau senyawa yang mempunyai kemampuan mendestabilkan koloid dengan menetralkan muatan listrik pada permukaan koloid sehingga terbentuk inti gumpalan dan dapat bergabung satu sama lain membuat flok dengan ukuran yang lebih besar sehingga mudah mengendap.
Ada tiga faktor yang menentukan keberhasilan suatu proses koagulasi yaitu:
1.      Jenis bahan kimia koagulan yang dipakai
2.      Dosis pembubuhan bahan kimia
3.      Pengadukan dari bahan kimia

Penggunaan koagulan alami dari tanaman :


1.      Biji Kelor (Moringa oleifera)

 

Biji kelor merupakan alternatif koagulan organik. Biji kelor sebagai koagulan dapat digunakan dengan dua cara yaitu biji kering dengan kulitnya dan biji kering tanpa kulitnya (Ndabigengesere dkk, 1995). Pohon kelor (Moringa oleifera) diketahui mengandung polielektrolit kationik dan flokulan alamiah dengan komposisi kimia berbasis polipeptida yang mempunyai berat molekul mulai dari 6000 sampai 16000 dalton, mengandung hingga 6 asam-asam amino terutama asam glutamat, mentionin, dan arginin (Jahn, 1986). Sebagai bioflokulan, biji kelor kering dapat digunakan untuk mengkoagulasi-flokulasi kekeruhan air (Jahn, 1986; Sani, 1990; Bina, 1991 dalam Muyibi dan Evison, 1995; Narasiah dkk, 2002).

Dalam proses koagulasinya, biji kelor memberikan pengaruh yang kecil terhadap derajat keasaman dan konduktivitas. Jumlah lumpur yang diproduksi biji kelor lebih sedikit dari jumlah lumpur yang diproduksi oleh ferro sulfat sebagai koagulan (Chandra, 1998).

Bahan koagulan dalam biji kelor adalah protein kationik yang larut dalam air. Potensial zeta larutan 5% biji kelor tanpa kulit adalah sekitar +6 mV (Ndabigengesere dkk, 1995). Hal ini menunjukkan bahwa larutan ini didominasi oleh tegangan positif, meskipun merupakan campuran heterogen yang kompleks. Potensial zeta air sintetik adalah sekitar -46 mV. Hal ini menunjukkan bahwa pada pH netral, partikel-partikel bermuatan negatif. Akibatnya, koagulasi partikel tersuspensi dengan biji kelor dipengaruhi oleh proses destabilisasi tegangan negatif koloid oleh polielektrolit kationik.

 

2.      Biji Asam Jawa (Tamarindus indica L.)

 

Biji asam jawa dapat digunakan sebagai koagulan alami dalam perbaikan kualitas air tanah telah dilakukan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan serbuk biji asam jawa sebagai biokoagulan untuk memperbaiki kualitas air dan pengaruhnya  terhadap parameter kualitas air, yang meliputi: temperatur, pH, konduktivitas, kekeruhan, oksigen terlarut, kandungan logam berat, dan total koliform. Hasil jar test diperoleh dosis optimum 0,009% (penurunan turbiditas 99,72%) untuk biji asam jawa dan 0,03%. Nilai pH optimum diperoleh pada pH 3. Penggunaan ekstark biji asam jawa tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap parameter temperatur, pH, konduktivitas, dan logam berat. Penggunaan biji asam jawa tidak menurunkan angka BOD. Ekstrak biji asam jawa mampu menurunkan angka total koliform.

 

3.      Biji Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.)

 

Ekstrak biji kecipir dapat digunakan sebagai koagulan alami dalam perbaikan kualitas air tanah. Ekstrak biji kecipir ini memiliki kemampuan sebagai biokoagulan yang sama dengan biji asam jawa.

Hasil jar test diperoleh penurunan turbiditas  92,03% untuk ekstrak biji kecipir. Nilai pH optimum diperoleh pada pH 3. Bedanya dengan biji asam jawa adalah bahwa Ekstrak biji kecipir tidak efektif dalam  menurunkan angka total koliform.

Selain itu, ekstrak biji kecipir ini dapat dijadikan sebagai koagulan dalam proses koagulasi protein dengan proses pemanasan. Dalam rangka penyediakan tambahan gizi bagi kehidupan manusia diperlukan produk makanan yang mengandung protein.

Daging merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung protein kadar tinggi. Daging dapat berasal dari hewan (hewani) maupun biji-bijian (nabati). Biji kecipir dapat digunakan sebagai bahan pembuatan daging nabati. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkoagulasi protein dari biji kecipir sebagai bahan pembuatan daging nabati.

Tujuan penelitian adalah mempelajari pengaruh waktu, suhu, dan tekanan pada koagulasi protein biji kecipir dan mencari kondisi proses yang relatif baik. Penelitian dilakukan dengan mengekstraksi serbuk biji kecipir seberat 30 gram dengan menggunakan 300 ml akuades di dalam tangki yang dilengkapi pengaduk. Slurry dalam tangki diaduk dengan kecepatan 150 rpm selama 60 jam pada suhu 60oC dan ekstraksi dilakukan sebanyak 4 tahap.

Filtrat hasil ekstraksi diambil 100 ml untuk dilakukan proses koagulasi. Variabel yang diteliti adalah suhu (50–70oC), waktu (1–3 jam), dan tekanan (vakum dan 1 atm). Jumlah protein dalam padatan protein dianalisis memakai makro kjeldahl. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pada kisaran 50-60oC yield protein semakin meningkat, tetapi pada suhu 70oC dan tekanan 1 atm yield protein berkurang. Selain itu, semakin lama waktu yang digunakan untuk koagulasi dan semakin rendah tekanan yang digunakan, maka yield protein yang didapat semakin besar.




jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/141976470.pdf
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/4413/1/09E00174.pdf
eprints.undip.ac.id/36848/1/1146

Tidak ada komentar:

Posting Komentar